Resensi Buku oleh Sostenis Nggebu, M.Th.

1 Replies, 58 Views

Gerakan yang Mengguncangkan Kota-kota
 
Identitas Buku

    Judul: Gerakan yang Mengguncangkan Kota-kota
Will This Rock ini Rio?
ISBN: 9789792483369
Penulis: Ken Lottis
Tahun: 2026
Halaman: 336
Penerbit: NavPress, Bandung
 
 
Santai bersama: Cavesinho (ayo, minum kopi) sebagai sarana membuka percakapan dan mencairkan suasana. Ini ajakan yang penuh persahabatan atau mengakrabkan relasi. Selalu ada cerita tentang cavesinho dalam narasi Lottis. Ini bukan hanya sebuah tradisi dalam budaya Brasil yang gemar meneguk secangkir kopi. Tetapi ini menggambarkan kesediaan hati yang tulus agar dapat menyatu dengan kebiasaan orang-orang yang dijangkaunya. Ketika membangun hubungan dengan mahasiswa, cavesinho sebagai pengikat yang alamiah, mereka bisa tertawa dan bebas berdiskusi apa saja, termasuk isi Alkitab.

Mengenal pergumulan batin atau kebutuhan pribadi tiap sahabat barunya. Sejumlah orang yang disebutkan namanya, Ken memaparkan watak mereka dengan sangat baik. Juga ia mengemukakan permasalahan mereka dan membawa mereka kembali kepada Alkitab. Seperti problema seorang pemuda tentang seks bebas. Ken membuka Alkitab dan meminta mahasiswa itu membaca firman Allah (1 Kor 6:12-20, lihat hlm 223-226). Mahasiswa itu mengambil komitmen untuk tidak melakukan “sesuatu” yang dianggap normal dalam budaya setempat.

Menghadapi banyak orang yang buta rohani. Kitab Injil Yohanes menjadi sarana dalam membuka Domingao (istilah untuk sharing bersama di akhir pekan). Alasannya bahwa Lottis hendak membawa pemikiran orang-orang berlatar belakang Katolik untuk mengenal Yesus (lihat 272-273). Orang-orang Katolik selalu mengucapkan “Anak Domba Allah menghapus dosa dunia, ampunilah kami.” Mereka mengucapkan tanpa mengenal siapa Dia atau tahu sumbernya dari mana? Seorang pria yang pernah studi iman dan teologi di Eropa yang membaca ayat in; ia sangat kaget, bahwa ternyata ayat tersebut bersumber dari Alkitab dan barulah ia sadar bahwa itu adalah Yesus (Yoh 1:29). Ini pemahaman baru bagi teolog yang buta rohani itu. Ia makin tertarik ikut Domingao. Betapa banyak orang seperti bapak tersebut di sekitar kita!

Menolong Mario secara total. Dalam pasal 24, Ken mempertaruhkan pengurbanan yang berharga dalam menolong Mario yang menderita kanker hingga akhir hayatnya. Membawa Mario ke dokter, lalu terbang bersamanya ke USA untuk perawatan penyakit kanker yang dideritanya. Hari-hari terakhir Mario berjuang dengan kanker, Kent selalu hadir. Menyaksikan anak rohaninya mengembuskan napas terakhir. Dan, bahkan memakamkannya juga. Narasi ini sungguh mendebarkan hati. Ken memperlihatkan diri sebagai orangtua rohani dan juga sebagai seorang hamba melayani secara total. Dia telah melakukan yang berbaik bagi Mario, melampaui batas. Luar biasa!!

Gairah bersekutu dalam Allelon. Ken sangat kreatif dalam mengemukakan suatu konsep dan menarasikannya (209-219). Apa itu Allelon? Kata ini berarti “satu sama lain” (one another). Dalam merintis PA di pasangan muda yang terdiri dari lima orang disebut Kelompok 5 A. Dalam kelompok ini, Ken menekankan bahwa mereka harus saling mengasihi, mengenal, rela berbagi dan menerima (tanpa menghakimi jika ada yang berbagi suatu yang beban yang mengganjal dalam hati). Yang lain harus menerima dan mendoakan. Itulah artinya makna satu sama lain. Masalah seseorang menjadi masalah kita bersama: mari mendoakannya! Kelompok LIMA A tersebut ternyata menjadi virus yang mengguncangkan Rio. Inilah inti dari buku Lottis. Kelompok LIMA A mulai menular dan menyebar dari mulut ke mulut. Dahsyat menang karya Tuhan kita Yesus Kristus.

Mendampingi alumni tanpa pamrih. Lottis bercerita tentang upaya menolong empat mahasiswa/alumni untuk mencari pekerjaan magang di Sao Paulo (hlm. 157-166). Ia selama seminggu menyetir berjam-jam ke kota itu; menghadapi macet yang keterlaluan; menunggu mereka melamar dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Adakalanya mereka ditolak di depan pintu pagar. Lottis sabar menemani dan berjuang bersama demi masa depan anak-anak rohaninya dan yang lebih penting bagi masa depan Navigator di Brasil. Dedikasi ini sebagai harga mahal yang dibayar dalam merintis pelayanan! Situasi ini mirip dengan pengalaman banyak hamba-hamba Tuhan di Navina juga.

Menulis di Masa Tua. Ken yang sempat dicurigai sebagai agen CIA ini mengatakan bahwa ia menulis buku ini di usia 73 tahun—angka yang sama persis usia ayahnya meninggal (hlm 155). Suatu gambaran realis demi mengenang sang ayah. Saya sejak awal berpikir apa yang menjadi sumber dari buku? Ingatan yang kuatkah? Ternyata di bagian-bagian akhir terkuak sumber penulis buku ini berdasarkan jurnal pribadi yang tersimpan rapi dalam amplop manila sehingga mudah ditemukan. Luar biasa. Pentingnya mengarsipkan dokumen atau catatan pribadi atau surat doa. Semua ini tidak asing bagi orang Navigator. Jadi inspirasinya, tiap Staf Navina bisa memunculkan sebuah catatan perjalanan imannya sebagai kenang-kenangan untuk generasi berikutnya.

Bagaikan Steger. Steger sangat familiar di kalangan tukang (hlm 282), yang dipasang pada waktu pembangunan rumah atau bangunan atau apa saja. Tetapi jika sudah rampung harus dibongkar. Ken dan Carol meyakini dengan damai agar melepaskan steger di Curitiba untuk “pergi” (bukan pulang) ke USA untuk memulai pelayanan baru. Dan, rupanya Tuhan sudah menyiapkan jalan bagi mereka seperti surat yang dikirim oleh Bob Sheffield untuk menawarkan tugas baru. Menakjubkan sekali, Tuhan menuntun kehidupan Ken dan sang istri secara realis.

Tiada gading tanpa retak. Buku ini sangat baik sekali terjemahannya, juga layout dan pemilihan font yang tidak melelahkan mata. Satu kekurangannya adalah tiada daftar istilah. Sebenarnya dibutuhkan untuk mengelompokkan banyak istilah bahasa Portugis dan Spanyol. Seandainya sudah tersusun di halaman awal, maka akan memudahkan pembaca cepat melihat kembali istilah tersebut. Salah satunya istilah sering digunakan di halaman-halaman akhir, yakni: turma, komunitas pengikut Yesus (hlm. 163).

Pencapaian dalam karya Lottis mewariskan nilai implikasi bagi komunitas Navina adalah bahwa merintis pelayanan yang berdampak besar menuntut pengurbanan yang bersifat total, personal, dan melampaui batas-batas tugas formal. Sebagaimana filosofi cavesinho dan steger, setiap anggota komunitas diajak untuk memiliki kesediaan hati dalam menyatu dengan budaya lokal, berani menginvestasikan waktu serta sumber daya secara tulus demi pergumulan pribadi orang lain—seperti yang ditunjukkan Ken saat menolong Mario—serta menjaga semangat Allelon (saling mengasihi) sebagai fondasi gerakan yang organik. Dedikasi tanpa pamrih dalam mendampingi orang lain, ketekunan mengarsipkan jejak iman dalam jurnal, dan kerelaan untuk "dilepaskan" demi pertumbuhan pelayanan baru menjadi teladan konkret bahwa setiap harga yang dibayar dalam pelayanan adalah investasi kekal bagi lahirnya generasi penerus yang tangguh.
Selamat menikmati buku terbaik hasil karya NavPress Indonesia di awal tahun 2026 ini! (Sostenis Nggebu, Staf Nav Bandung).
Terima kasih mas Bayu menyimpannya di sini. Saya membaca sedikit dulu, tetapi next time akan baca lagi. Well done, pak Sos dan mas Bayu.



Users browsing this thread: 1 Guest(s)