14:38 - 25.03
Ada tiga kata kunci: Pertama kita ditentukan. Kedua adalah itu sesuai dengan kerelaan; kerelaan Tuhan, kerelaan kehendak Tuhan. Ketiga itu adalah rahasia ia menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita. Jadi betapa luar biasanya arti kehadiran kita dan siapa diri kita. Allah ingin melibatkan kita dalam kemitraan dengan Dia.
Itu adalah rahasia Allah itu sesuai dengan kerelaan Allah sendiri dan kita sudah dipilih sebelum dunia dijadikan. Wah saya merasa tiga kata kunci, tiga kalimat kunci yang sudah cukup untuk menyatakan kesungguhan Allah menjadikan saya mitra Dia. Yesaya 6 ayat 8 inilah aku, utuslah aku. Inilah aku utuslah aku.
Saya pikir kata-kata ini satu pernyataan iman yang luar biasa dari Yesaya. Tuhan saya tidak melihat siapa-siapa lagi. Saya tahu benar apa yang Tuhan sudah siapkan dengan hidup saya. Inilah saya Tuhan nyatakanlah bagaimana engkau mengutus saya dengan jelas silahkan.
Di berikutnya secara nyata apa bagian saya teman-teman? Kita dilahirkan dengan kemampuan berbeda, talenta karunia yang berbeda. Saya pikir pelayanan Navigator ini luar biasa sekali. Kami di tim regional satu saja melihat keluarga Barce, keluarga Guntara, adik keluarga kami. Dulu ada keluarga Almarhum Henry sebenarnya.
Kami adalah orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan kehidupan kami masing-masing. Allah melengkapi kami dengan karunia dan talenta yang luar biasa, tapi kami diingatkan dari Matius 25 ayat 14 sampai 30 ini lima talenta yang Allah berikan, lima talenta itu yang harus kami pertanggung jawabkan; tiga talenta, tiga talenta itu yang harus kami perjuangkan teman-teman. Kita tidak bisa membandingkan kita dan orang lain, tapi Allah sedang ingin kita bertanggung jawab dengan talenta dan karunia yang Allah sudah percayakan kepada kita.
Itu bukan untuk kita pakai bagi kepuasan diri kita sendiri, bagian saya adalah setiap talenta dan karunia yang Allah percayakan kepada saya. Itu saya pertanggung jawabkan untuk kemuliaan Tuhan. Inilah bagian saya saya bersyukur bahwa di Pelayanan Navigator semua kita memiliki talenta dan karunia yang begitu cukup sebenarnya. Coba kita pikirkan kembali, mungkin talenta dan karunia di bagian mana yang Tuhan ingin kita pertanggungjawabkan untuk bermitra dengan Allah.
Yang kedua, sebenarnya yang paling sempurna ya dia ingin kita mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, dan itu adalah ibadah kita yang sejati dari Roma 12 ayat 1.
Kemudian bagian saya yang lain adalah memberi, saya tambahkan kata-katanya memberi dari kekurangan. Kalau memberi dari kelebihan mungkin orang pikir ya kamu punya kelebihan kamu berilah. Tapi enggak semua orang punya kelebihan nah itu membuat saya merasa kurang tepat dengan menambahkan kalimat memberi dari kekurangan ini menunjukkan nilai kemurnian yang luar biasa sekali.
Ini dicontohkan oleh Lukas 21 ayat 1 sampai 4 dari seorang janda miskin ketika Yesus mengangkat mukanya ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan, Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang itu sebab mereka semua memberi persembahan dari kelimpahannya tetapi janda itu memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”
Empat ayat ini mengingatkan saya waktu saya memberi sebagai bagian dari hidup saya saya memberikan semuanya saya memberikan tubuh saya saya memberikan kehidupan saya saya memberikan yang terbaik yang saya punya.
Saya ingat berapa puluh tahun yang lalu saya kira sudah cukup lama sebenarnya ini cerita ini. Saya mohon maaf saya minta izin dengan Om Edu. Pak Edu Napitupulu dia memberi kesaksian ke kami. Dia sharing ke beberapa dari kami waktu itu dia baru pulang dari Maluku dari Ambon—mungkin jalan-jalan pelayanan di sana. Saya ingin membagikan tentang pemberian ketika itu Ambon atau Maluku teman-teman yang berkumpul itu sebenarnya sedang mengalami masa-masa yang kesulitan ekonomi atau resesi ekonomi.
Sehingga sebelum Om Edu menantang mereka, Om Edu tanya dan ngobrol lalu ada kata-kata bahwa ya kami sedang berdoa untuk kecukupan atau kehidupan yang sulit ini gitu lah kurang lebih seperti itu—mohon maaf kalau ceritanya kurang kata-katanya kurang tepat sekali tapi kontennya begitu—lalu Om Edu langsung bilang ah kalau begitu saya datang pada waktu yang tepat saya datang untuk menyampaikan bahwa ini kesempatan untuk memberi dari kekurangan.
Karena dia mengutip dari Maleakhi 3 ayat 10 … bawalah seluruh persembahan-persembahan itu ke dalam rumah perbendaran supaya ada persediaan makanan di rumahku dan ujilah aku firman Tuhan semesta alam. Apakah aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan ketika di masa kekurangan kesulitan. Seperti yang kita alami saat ini pandemik berbicara tentang persembahan justru itu adalah momentum yang tepat dan saya setuju juga dengan statement ini inilah kesempatan kita untuk melihat hitung-hitungan kita dengan Allah ujilah aku kata Tuhan. Apakah dia adalah Allah yang tidak setia dengan janji-Nya. Jadi memberi itu bukan dari kelimpahan memberi dari kekurangan itulah bagian saya sekali lagi.
Di bagian ketiga setelah mempersembahkan tubuh memberi dari kekurangan silahkan ayat ke poin 4 yang berikutnya di bagian ini saya agak lari sedikit. Dari cerita ini adalah poin yang menjadi favorit saya ketika saya hampir menyelesaikan kuliah saya di Bandung di tahun 80-an akhir itu waktu itu ada kesempatan bagi saya untuk merenungkan tentang menjadi pekerja mungkin seperti Abram seperti Jerry dan Calvin saksikan tadi. Di saat itu saya belajar dari Keluaran dan khususnya dari Keluaran 12-13 itu ada satu bagian di bagian itu ketika itu bangsa Israel keluar dari Mesir dengan rasa suka cita mereka keluar dari perhambaan Mesir lalu di Keluaran 13 itu ditulis—sorry saya buka saya baca ya. Ini adalah bagian favorit saya waktu itu untuk merenungkan tentang apa yang Allah ingin ketika saya mengucap syukur.
“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa kuduskanlah bagiku semua anak sulung semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel baik pada manusia maupun pada hewan akulah yang empunya mereka.” Keluaran 13 ayat 2 itu sebenarnya mengatakan ketika kita mengucap syukur kepada Tuhan ucapkanlah syukur untuk semua dengan cara yang memberikan yang semua yang terbaik yang kita punya kepada Tuhan. Ternak-ternak yang terbaik hasil tani yang terbaik dan puncaknya adalah persembahkan anak sulung kepada Tuhan sebagai persembahan syukurmu kepada Tuhan sebagai persembahan syukurmu kepada Tuhan.
Tapi di Bilangan 3 ayat 11-13 “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepunyaan-Ku, sebab Akulah yang punya semua anak sulung. Pada waktu Aku membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, maka Aku menguduskan bagi-Ku semua anak sulung yang ada pada orang Israel, baik dari manusia maupun dari hewan; semuanya itu kepunyaan-Ku; Akulah TUHAN.’”
Saya anak sulung dari keluarga ayah ibu saya ketika saya merenungkan bagian ini saya pikir dan saya ngobrol sama bapak ibu saya kalau kita mengucap syukur kepada Tuhan mestinya kalian mempersembahkan saya sebagai persembahan kepada Tuhan persembahan yang terbaik itu adalah mempersembahkan saya. Tapi, Bilangan tiga ini mengatakan sebagai ganti dari kehadiran seorang anak sulung seperti saya saya tahu papa mama saya sangat mengasihi saya dan orang Batak itu laki-laki anak sulung itu luar biasa sekali nilainya.
Ada tiga kata kunci: Pertama kita ditentukan. Kedua adalah itu sesuai dengan kerelaan; kerelaan Tuhan, kerelaan kehendak Tuhan. Ketiga itu adalah rahasia ia menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita. Jadi betapa luar biasanya arti kehadiran kita dan siapa diri kita. Allah ingin melibatkan kita dalam kemitraan dengan Dia.
Itu adalah rahasia Allah itu sesuai dengan kerelaan Allah sendiri dan kita sudah dipilih sebelum dunia dijadikan. Wah saya merasa tiga kata kunci, tiga kalimat kunci yang sudah cukup untuk menyatakan kesungguhan Allah menjadikan saya mitra Dia. Yesaya 6 ayat 8 inilah aku, utuslah aku. Inilah aku utuslah aku.
Saya pikir kata-kata ini satu pernyataan iman yang luar biasa dari Yesaya. Tuhan saya tidak melihat siapa-siapa lagi. Saya tahu benar apa yang Tuhan sudah siapkan dengan hidup saya. Inilah saya Tuhan nyatakanlah bagaimana engkau mengutus saya dengan jelas silahkan.
Di berikutnya secara nyata apa bagian saya teman-teman? Kita dilahirkan dengan kemampuan berbeda, talenta karunia yang berbeda. Saya pikir pelayanan Navigator ini luar biasa sekali. Kami di tim regional satu saja melihat keluarga Barce, keluarga Guntara, adik keluarga kami. Dulu ada keluarga Almarhum Henry sebenarnya.
Kami adalah orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan kehidupan kami masing-masing. Allah melengkapi kami dengan karunia dan talenta yang luar biasa, tapi kami diingatkan dari Matius 25 ayat 14 sampai 30 ini lima talenta yang Allah berikan, lima talenta itu yang harus kami pertanggung jawabkan; tiga talenta, tiga talenta itu yang harus kami perjuangkan teman-teman. Kita tidak bisa membandingkan kita dan orang lain, tapi Allah sedang ingin kita bertanggung jawab dengan talenta dan karunia yang Allah sudah percayakan kepada kita.
Itu bukan untuk kita pakai bagi kepuasan diri kita sendiri, bagian saya adalah setiap talenta dan karunia yang Allah percayakan kepada saya. Itu saya pertanggung jawabkan untuk kemuliaan Tuhan. Inilah bagian saya saya bersyukur bahwa di Pelayanan Navigator semua kita memiliki talenta dan karunia yang begitu cukup sebenarnya. Coba kita pikirkan kembali, mungkin talenta dan karunia di bagian mana yang Tuhan ingin kita pertanggungjawabkan untuk bermitra dengan Allah.
Yang kedua, sebenarnya yang paling sempurna ya dia ingin kita mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, dan itu adalah ibadah kita yang sejati dari Roma 12 ayat 1.
Kemudian bagian saya yang lain adalah memberi, saya tambahkan kata-katanya memberi dari kekurangan. Kalau memberi dari kelebihan mungkin orang pikir ya kamu punya kelebihan kamu berilah. Tapi enggak semua orang punya kelebihan nah itu membuat saya merasa kurang tepat dengan menambahkan kalimat memberi dari kekurangan ini menunjukkan nilai kemurnian yang luar biasa sekali.
Ini dicontohkan oleh Lukas 21 ayat 1 sampai 4 dari seorang janda miskin ketika Yesus mengangkat mukanya ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan, Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang itu sebab mereka semua memberi persembahan dari kelimpahannya tetapi janda itu memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”
Empat ayat ini mengingatkan saya waktu saya memberi sebagai bagian dari hidup saya saya memberikan semuanya saya memberikan tubuh saya saya memberikan kehidupan saya saya memberikan yang terbaik yang saya punya.
Saya ingat berapa puluh tahun yang lalu saya kira sudah cukup lama sebenarnya ini cerita ini. Saya mohon maaf saya minta izin dengan Om Edu. Pak Edu Napitupulu dia memberi kesaksian ke kami. Dia sharing ke beberapa dari kami waktu itu dia baru pulang dari Maluku dari Ambon—mungkin jalan-jalan pelayanan di sana. Saya ingin membagikan tentang pemberian ketika itu Ambon atau Maluku teman-teman yang berkumpul itu sebenarnya sedang mengalami masa-masa yang kesulitan ekonomi atau resesi ekonomi.
Sehingga sebelum Om Edu menantang mereka, Om Edu tanya dan ngobrol lalu ada kata-kata bahwa ya kami sedang berdoa untuk kecukupan atau kehidupan yang sulit ini gitu lah kurang lebih seperti itu—mohon maaf kalau ceritanya kurang kata-katanya kurang tepat sekali tapi kontennya begitu—lalu Om Edu langsung bilang ah kalau begitu saya datang pada waktu yang tepat saya datang untuk menyampaikan bahwa ini kesempatan untuk memberi dari kekurangan.
Karena dia mengutip dari Maleakhi 3 ayat 10 … bawalah seluruh persembahan-persembahan itu ke dalam rumah perbendaran supaya ada persediaan makanan di rumahku dan ujilah aku firman Tuhan semesta alam. Apakah aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan ketika di masa kekurangan kesulitan. Seperti yang kita alami saat ini pandemik berbicara tentang persembahan justru itu adalah momentum yang tepat dan saya setuju juga dengan statement ini inilah kesempatan kita untuk melihat hitung-hitungan kita dengan Allah ujilah aku kata Tuhan. Apakah dia adalah Allah yang tidak setia dengan janji-Nya. Jadi memberi itu bukan dari kelimpahan memberi dari kekurangan itulah bagian saya sekali lagi.
Di bagian ketiga setelah mempersembahkan tubuh memberi dari kekurangan silahkan ayat ke poin 4 yang berikutnya di bagian ini saya agak lari sedikit. Dari cerita ini adalah poin yang menjadi favorit saya ketika saya hampir menyelesaikan kuliah saya di Bandung di tahun 80-an akhir itu waktu itu ada kesempatan bagi saya untuk merenungkan tentang menjadi pekerja mungkin seperti Abram seperti Jerry dan Calvin saksikan tadi. Di saat itu saya belajar dari Keluaran dan khususnya dari Keluaran 12-13 itu ada satu bagian di bagian itu ketika itu bangsa Israel keluar dari Mesir dengan rasa suka cita mereka keluar dari perhambaan Mesir lalu di Keluaran 13 itu ditulis—sorry saya buka saya baca ya. Ini adalah bagian favorit saya waktu itu untuk merenungkan tentang apa yang Allah ingin ketika saya mengucap syukur.
“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa kuduskanlah bagiku semua anak sulung semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel baik pada manusia maupun pada hewan akulah yang empunya mereka.” Keluaran 13 ayat 2 itu sebenarnya mengatakan ketika kita mengucap syukur kepada Tuhan ucapkanlah syukur untuk semua dengan cara yang memberikan yang semua yang terbaik yang kita punya kepada Tuhan. Ternak-ternak yang terbaik hasil tani yang terbaik dan puncaknya adalah persembahkan anak sulung kepada Tuhan sebagai persembahan syukurmu kepada Tuhan sebagai persembahan syukurmu kepada Tuhan.
Tapi di Bilangan 3 ayat 11-13 “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepunyaan-Ku, sebab Akulah yang punya semua anak sulung. Pada waktu Aku membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, maka Aku menguduskan bagi-Ku semua anak sulung yang ada pada orang Israel, baik dari manusia maupun dari hewan; semuanya itu kepunyaan-Ku; Akulah TUHAN.’”
Saya anak sulung dari keluarga ayah ibu saya ketika saya merenungkan bagian ini saya pikir dan saya ngobrol sama bapak ibu saya kalau kita mengucap syukur kepada Tuhan mestinya kalian mempersembahkan saya sebagai persembahan kepada Tuhan persembahan yang terbaik itu adalah mempersembahkan saya. Tapi, Bilangan tiga ini mengatakan sebagai ganti dari kehadiran seorang anak sulung seperti saya saya tahu papa mama saya sangat mengasihi saya dan orang Batak itu laki-laki anak sulung itu luar biasa sekali nilainya.
