Transkrip 5 menit pertama
Mungkin sebagai pembukaan saya hanya mau bilang bahwa saya pakai batik ini sudah lama, gak pernah pakai batik selama masa COVID tadi saya sudah ulang karena saya merasa ini acara yang sangat khusus mengajak saudara-saudara untuk ingat lagi kita sedang diundang Allah menjadi mitra Allah menjadi orang-orang yang menginvestasikan hidup kita, waktu kita tenaga kita dan semua hal jadi sebagai orang-orang yang berbicara kepada para investor atau calon investor jadi saya pikir saya pakai batik saja oke.
Saya ingin memulai dengan satu cerita tentang apa yang saya alami saya tidak lahir di Jakarta, tapi dalam umur di bawah satu tahun saya sudah jadi orang Jakarta karena bapak saya jaksa, pindah-pindah tempat lalu umur saya 6 bulan, bapak saya sudah pindah ke Jakarta nah, saya katakan ke teman-teman waktu di persekutuan itu saya orang Jakarta ya memang saya orang Batak, tapi saya orang Jakarta yang menikmati bertumbuh sebagai, betul-betul orang Jakarta saya orang petojo lah TK, SD, SMP, SMA saya di Jakarta, baru saya kuliah di Bandung dan bertemu dengan pelayanan navigator ketika saya lulus dan hampir lulus dari Bandung dari ITB di Bandung.
Ada kata-kata yang sering diulang-ulang oleh teman-teman dalam lingkungan saya, termasuk pembimbing, pembimbing, pemimpin-pemimpin senior-senior saat itu adalah Jakarta, “Harus hati-hati masuk Jakarta, karena Jakarta itu adalah kuburan para alumni rawa-rawa siap untuk menerkam dan mematikan nyala api rohani seorang alumni yang tangguh sekalipun.”
Saya orang Jakarta mendengar itu gentar sekali dan saya memang melihat dua teman seperti kehilangan kontak entah kehilangan semangat atau kehilangan data saya nggak tahu, nggak semudah hari ini ya kita bisa ada WA, ada apa saya merasa ada beberapa teman-teman saya saya tidak bisa ketemu lagi.
Begitulah gambaran seremnya kota metropolitan Jakarta ibu kota yang lebih serem dari ibu tiri katanya nah gambaran-gambaran yang menakutkan itu membuat saya banyak sekali berdoa supaya Tuhan beri saya pekerjaan di Bandung saja.
Tapi di Bandung ada begitu banyak perusahaan ya tidak banyak ladang pekerjaan waktu itu yang top baru kayak Nurtanio ya tapi juga kontraktor-kontraktor pesaingnya juga banyak mau jadi dosen nggak cocok lah saya nggak cukup ilmu saya dan IP saya untuk mendapatkan posisi yang terhormat itu.
Nah ketika dalam kemelut itu tiba-tiba saya harus kembali ke Jakarta dan diterima bekerja di Jakarta saya tahu waktu itu maksud baik Tuhan ya supaya saya kembali ke Jakarta di Jakarta saya bertemu dengan beberapa teman itu angkatannya Om Edu, Om Marihot itu sudah ada di sana.
Kami berkumpul di Rasamala ketemu dengan mereka-mereka karena jumlah kami nggak seberapa jumlah kami itu-itu sajalah tapi bersyukur waktu itu angkatan saya angkatan sebelum saya itu cukup kompak jadi kami mengisi dengan maintenance sebenarnya tujuannya satu di Rasamala.
Maintenance itu adalah saling menguatkan karena mungkin di kepala kami ada pikiran kalau jauh dari sini kami jadi domba yang tersesat kami akan masuk rawa-rawa kami akan masuk kuburan alumni tadi gitu ya begitulah keadaan Jakarta waktu itu.
Puji Tuhan kami melewati masa-masa yang kekeringan kota-kota sunyi tadi ya berapa puluh tahun kemudian Jakarta berubah luar biasa saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan detail.
Tapi saya masih ingat ketika sekitar 10 tahun yang silam dengan Mas Setya dengan pelayanan yang sudah bertumbuh di daerah Depok dan sebagainya mengajak saya untuk menjadi bersama-sama mengkoordinir kota Jakarta dan disitu saya sudah melihat ada Jakarta Utara ada Jakarta Timur, ada Jakarta Selatan Jakarta Barat ada sedikit-sedikit ya.
Tapi sudah terbentuk ada pelayanan ya tetaplah Rumah Sakit Cikini itu tradisional kita sudah lama disana tapi mulai ada pelayanan di Ratu Plaza, Kuningan perkantoran-perkantoran Senen Atrium dan sebagainya tapi itu masih dalam jumlah kita saling menandai saya ingat nama-nama para pemimpin disitu karena memang jumlah kami yang sudah bertambah banyak itu tidak terlalu banyak juga tapi secara singkat saya harus katakan bahwa hari ini kita bisa lihat kota Jakarta atau Jabodetabek bertumbuh sangat luar biasa diluar pemikiran.
Mungkin sebagai pembukaan saya hanya mau bilang bahwa saya pakai batik ini sudah lama, gak pernah pakai batik selama masa COVID tadi saya sudah ulang karena saya merasa ini acara yang sangat khusus mengajak saudara-saudara untuk ingat lagi kita sedang diundang Allah menjadi mitra Allah menjadi orang-orang yang menginvestasikan hidup kita, waktu kita tenaga kita dan semua hal jadi sebagai orang-orang yang berbicara kepada para investor atau calon investor jadi saya pikir saya pakai batik saja oke.
Saya ingin memulai dengan satu cerita tentang apa yang saya alami saya tidak lahir di Jakarta, tapi dalam umur di bawah satu tahun saya sudah jadi orang Jakarta karena bapak saya jaksa, pindah-pindah tempat lalu umur saya 6 bulan, bapak saya sudah pindah ke Jakarta nah, saya katakan ke teman-teman waktu di persekutuan itu saya orang Jakarta ya memang saya orang Batak, tapi saya orang Jakarta yang menikmati bertumbuh sebagai, betul-betul orang Jakarta saya orang petojo lah TK, SD, SMP, SMA saya di Jakarta, baru saya kuliah di Bandung dan bertemu dengan pelayanan navigator ketika saya lulus dan hampir lulus dari Bandung dari ITB di Bandung.
Ada kata-kata yang sering diulang-ulang oleh teman-teman dalam lingkungan saya, termasuk pembimbing, pembimbing, pemimpin-pemimpin senior-senior saat itu adalah Jakarta, “Harus hati-hati masuk Jakarta, karena Jakarta itu adalah kuburan para alumni rawa-rawa siap untuk menerkam dan mematikan nyala api rohani seorang alumni yang tangguh sekalipun.”
Saya orang Jakarta mendengar itu gentar sekali dan saya memang melihat dua teman seperti kehilangan kontak entah kehilangan semangat atau kehilangan data saya nggak tahu, nggak semudah hari ini ya kita bisa ada WA, ada apa saya merasa ada beberapa teman-teman saya saya tidak bisa ketemu lagi.
Begitulah gambaran seremnya kota metropolitan Jakarta ibu kota yang lebih serem dari ibu tiri katanya nah gambaran-gambaran yang menakutkan itu membuat saya banyak sekali berdoa supaya Tuhan beri saya pekerjaan di Bandung saja.
Tapi di Bandung ada begitu banyak perusahaan ya tidak banyak ladang pekerjaan waktu itu yang top baru kayak Nurtanio ya tapi juga kontraktor-kontraktor pesaingnya juga banyak mau jadi dosen nggak cocok lah saya nggak cukup ilmu saya dan IP saya untuk mendapatkan posisi yang terhormat itu.
Nah ketika dalam kemelut itu tiba-tiba saya harus kembali ke Jakarta dan diterima bekerja di Jakarta saya tahu waktu itu maksud baik Tuhan ya supaya saya kembali ke Jakarta di Jakarta saya bertemu dengan beberapa teman itu angkatannya Om Edu, Om Marihot itu sudah ada di sana.
Kami berkumpul di Rasamala ketemu dengan mereka-mereka karena jumlah kami nggak seberapa jumlah kami itu-itu sajalah tapi bersyukur waktu itu angkatan saya angkatan sebelum saya itu cukup kompak jadi kami mengisi dengan maintenance sebenarnya tujuannya satu di Rasamala.
Maintenance itu adalah saling menguatkan karena mungkin di kepala kami ada pikiran kalau jauh dari sini kami jadi domba yang tersesat kami akan masuk rawa-rawa kami akan masuk kuburan alumni tadi gitu ya begitulah keadaan Jakarta waktu itu.
Puji Tuhan kami melewati masa-masa yang kekeringan kota-kota sunyi tadi ya berapa puluh tahun kemudian Jakarta berubah luar biasa saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan detail.
Tapi saya masih ingat ketika sekitar 10 tahun yang silam dengan Mas Setya dengan pelayanan yang sudah bertumbuh di daerah Depok dan sebagainya mengajak saya untuk menjadi bersama-sama mengkoordinir kota Jakarta dan disitu saya sudah melihat ada Jakarta Utara ada Jakarta Timur, ada Jakarta Selatan Jakarta Barat ada sedikit-sedikit ya.
Tapi sudah terbentuk ada pelayanan ya tetaplah Rumah Sakit Cikini itu tradisional kita sudah lama disana tapi mulai ada pelayanan di Ratu Plaza, Kuningan perkantoran-perkantoran Senen Atrium dan sebagainya tapi itu masih dalam jumlah kita saling menandai saya ingat nama-nama para pemimpin disitu karena memang jumlah kami yang sudah bertambah banyak itu tidak terlalu banyak juga tapi secara singkat saya harus katakan bahwa hari ini kita bisa lihat kota Jakarta atau Jabodetabek bertumbuh sangat luar biasa diluar pemikiran.
